21/02/2024

Dengan visi Indonesia Emas 2045, sayangnya Indonesia merupakan salah satu negara yang saat ini masih terus berjuang menghadapi isu stunting. Persentase penderita stunting masih di atas 20%, tepatnya 24,4%, yang ditentukan World Health Organization (WHO).

Oh iya, buat yang belum tahu, stunting saat ini sudah dipadankan ke bahasa Indonesia menjadi tengkes ya

Permasalahan besar tersebut menjadi inspirasi yang dijalankan melalui sebuah proyek sosial dari salah seorang peserta Beasiswa Indonesia Maju (BIM) Program Persiapan Sarjana Luar Negeri Angkatan 3, Rayyana Amaluna Suha Abidin, yang akrab disapa Rayya.

Rayyana Amaluna Suha Abidin (SMA Labschool Cirendeu) dan Cyra Anindya Alesha (SMA Labschool Kebayoran)

Rayyana Amaluna Suha Abidin (SMA Labschool Cirendeu) dan Cyra Anindya Alesha (SMA Labschool Kebayoran) saat Gelar Karya BIM. Sumber: Dokumentasi Puspresnas

Inspirasi tersebut muncul untuk Rayya yang merupakan siswi SMA Labschool Cirendeu, Tangerang Selatan dari hasil pengamatan Rayya di sekitar lokasi tempat penampungan sampah (TPS) Lebak Bulus, Jakarta Selatan dan Posyandu Pisangan di Tangerang Selatan, Banten. Rayya kemudian meluncurkan Medella Initiative.

Medella Initiative adalah langkah aksi inovatif yang mengajak banyak pihak untuk lebih sadar akan isu stunting terutama pada ibu hamil. Medella Initiative hadir melalui aplikasi, edukasi, dan sosialisasi mengenai pendeteksi dini tengkes.

Proyek ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana gizi atau kondisi kesehatan bagi Ibu hamil dan anak berusia 0-2 tahun dengan Maternity Early Warning System (MEWS).

Beberapa agenda yang dilakukan Rayya dkk di lokasi tersebut adalah agenda pemutaran video, kuis berhadiah, peluncuran MedellaApp, dan pembagian makanan gratis.

Tim juga melakukan kampanye bahaya stunting di lokasi Car Free Day (CFD) di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. 

Kegiatan tersebut mendapatkan respon positif dari warga setempat serta dari pihak Puskesmas dan Posyandu. Warga membantu tim dengan memberi saran dan langkah agar proyek bisa diterima oleh masyarakat.

“Perlu waktu dan  proses bertahap hingga warga mau terlibat dalam kegiatan,” kata Rayya.

Rayya saat ini masih mengenyam pendidikan di SMA Labschool Cirendeu, Tangerang Selatan. Selain prestasi akademik, Rayya juga memiliki catatan prestasi non-akademik. Misal, sejak masih duduk di bangku SD ia sudah aktif dalam kegiatan Pramuka. Ia juga pernah terpilih menjadi perwakilan Indonesia dalam Jambore Dunia XXV di Sae ManGeum, Korea Selatan pada Agustus 2023.

Rayya juga menjadi peserta Student Exchange Australia 2018 at Kedron State High School, Brisbane. Lalu, menjadi peserta Winter Program University of Sydney, Australia pada Juni 2023. Rayya pun adalah juara 1 Traditional Dance (Folklore) La Vista Italy International Festival  Competition 2019.

Kegiatan ini merupakan program dari Beasiswa Indonesia Maju Program Persiapan Sarjana Luar Negeri sebagai persiapan peserta didik untuk menjalani studi ke luar negeri.

Sebagai informasi, BIM terdiri dari program beasiswa bergelar (degree) dan beasiswa non-gelar (non-degree). Program Beasiswa Bergelar jenjang Sarjana dan Magister dilaksanakan oleh Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, sedangkan program beasiswa non-gelar, yaitu Program Persiapan Sarjana Luar Negeri, dilaksanakan oleh Pusat Prestasi Nasional.

Peserta BIM Program Persiapan Sarjana Luar Negeri akan mengikuti seleksi guna mendapatkan Program Beasiswa Bergelar setelah mendapat Letter of Acceptance (LoA) atau surat keputusan penerimaan dari universitas tujuan BIM.

Dalam program BIM, Rayya didampingi oleh Ahmad M. Syarif sebagai mentor. Ia juga dibantu oleh sesama peserta sebagai sukarelawan, Cyra Anindya Alesha dari SMA Labschool Kebayoran, dan 5 orang sukarelawan lain.

Sumber berita :

Puspresnas Kemendikbud